Rangkaian Tradisi Unik Umat Hindu Menyambut Hari Suci Nyepi

- 11 Maret 2024, 22:47 WIB
Sambut Hari Raya Nyepi 2024 dengan pawai Ogoh-Ogoh
Sambut Hari Raya Nyepi 2024 dengan pawai Ogoh-Ogoh /Tangkap Layar Instagram/@promobali_id

SEPUTARCIBUBUR- Jelang hari Suci Nyepi umumnya umat Hindu melakukan serangkaian ritual khas keagamaan yang pada hakekatnya merupakan upaya pensucian diri dan lingkungan sekitar. 

Rangkaian hari Suci Nyepi dimulai dari upacara Melasti, kemudian Tawur Agung Kesanga, dilanjutkan Pengerupukan, hingga akhirnya Nyepi.

Diawali dengan Melasti yaitu upacara pengambilan tirta suci di tengah samudera atau sumber mata air. Upacara ini dimaknai sebagai pembersihan alam semesta termasuk bumi pertiwi dan seisinya.

Baca Juga: Hasilkan 12 Ton Biji Kopi, Jalan Trans Papua Berpotensi Mengembangkan Ekonomi Komoditas

Ritual ibadah ini dilaksanakan di pura yang berdekatan dengan sumber air kehidupan (tirta amertha) seperti laut, danau, atau sungai.

Selanjutnya Tawur Agung Kesanga yaitu upacara yang dilakukan sehari sebelum hari Suci Nyepi, yang bertujuan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam.

Pengerupukan adalah tahapan berikutnya dari pelaksanaan hari Suci Nyepi yang memiliki makna mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Bhuta Kala merupakan simbol dari kejahatan dan kekotoran.

Baca Juga: Renungan Malam Kristiani: Tak Ada yang Baik dari Kekuatiran

Pelaksanaan Pengerupukan ditandai dengan diaraknya Ogoh-ogoh atau patung yang melambangkan kepribadian dan sosok Bhuta Kala, manifestasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan dalam kehidupan manusia.

Umumnya Ogoh-ogoh divisualisasikan dengan mahluk bertubuh besar, kuku panjang, dan berwajah seram.

Pada pelaksanaan Pengerupukan, Ogoh-ogoh akan diarak mengelilingi desa adat dan diiringi oleh obor ke lingkungan sekitar sembari membuat suara nyaring dari tetabuhan perkakas untuk menetralisir energi negatif.

Setelah itu pawai Ogoh-ogoh dimulai, diiringi dengan lantunan gamelan Bali bernama baleganjur.

Setelah diarak mengelilingi desa, Ogoh-ogoh tersebut  kemudian dibakar. Pembakaran Ogoh-ogoh dimaknai sebagai bentuk pemurnian spiritual, bersih, dan bebas dari segala gangguan mahluk maupun roh jahat. ***

Editor: Ruth Tobing


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x