Tradisi Kure, Warisan Budaya Takbenda NTT untuk Menyambut Paskah

- 31 Maret 2024, 13:47 WIB
Jadwal Misa Pekan Suci Paskah 2024 di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru hingga Gereja Keluarga Kudus Banteng Jogja, Cek di Sini
Jadwal Misa Pekan Suci Paskah 2024 di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru hingga Gereja Keluarga Kudus Banteng Jogja, Cek di Sini /Freepik/

SEPUTARCIBUBUR- Masyarakat Kote di Nusa Tenggara Timur (NTT) sibuk beberapa hari ini karena Tradisi Kure. Apa itu Tradisi Kure?

Tradisi Kure adalah sebuah ritual menyongsong perayaan Paskah oleh sekelompok masyarakat yang merupakan kombinasi antara tradisi agama dan budaya di Kote.

Kure adalah istilah dalam bahasa Latin yaitu berdoa sambil mengunjungi keluarga yang pada zaman dahulu menerima agama Katolik di sana.

Baca Juga: Paralympic Training Center, Pusat Latihan Atlet Disabilitas yang Pertama di Indonesia

Tak heran kalau Tradisi Kure menjadi warisan budaya takbenda, karena unik dan sudah diwarisi turun temurun.

Tradisi Kure hanya dijalani di Kote, sebuah kampung tua yang letaknya 18 kilometer sebelah selatan kota Kefamenanu ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara.

Uniknya Tradisi Kure dilakukan selama lima hari dari Rabu sampai Senin dengan rangkaian acara di setiap hari.

Baca Juga: Rumah Produksi Bersama Fasilitasi UMKM Naik Kelas, Dari Hilirisasi hingga Akses Pasar dan Permodalan

Hari Rabu ada ritual Trebluman atau pengosongan diri. Utusan Ume Uis Neno, atau rumah adat Tuhan, dan umat lainnya berdoa di gereja.

Dilanjut pemadaman lampu dan membuat bunyi-bunyian selama lima menit untuk mengusir roh jahat.

Hari Kamis Putih, Taniu Uis Neno dilakukan untuk memandikan benda-benda suci. Nantinya, air mandinya digunakan untuk membasuh wajah, kaki, dan tangan sebagai lambang pembersihan diri dan membawa kedamaian.

Pada Jumat Agung, seluruh warga dilarang berkendara dan membunyikan apa pun sampai Sabtu pagi.

Esoknya, seluruh warga melakukan misa, dilanjutkan dengan Bonet yaitu menari bersama-sama lebih dari 50 orang di paroki.

Dilanjut Minggu Paskah, terdapat pesta paskah dengan tarian gong, bidut, dan bentuk keramaian lainnya sampai malam.

Terakhir, Senin, hiasan Ume Uis Neno dan alat Taniu Uis Nuno dihanyutkan ke kali. Sebagai tanda melepaskan dosa-dosa karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Kristus dan menjadi manusia baru atau disebut “Sef Mau”. ***

 

Sumber: ap_airport

Editor: Ruth Tobing


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x