Rapor Merah, Bahasa Daerah di Indonesia Mengalami Kepunahan

- 28 Mei 2024, 18:30 WIB
Link Twibbon Gerakan Jogjakarta Kota Hanacaraka, cara pasang bingkai foto Jogja Kota HaNaCaRaKa dari Dinas Kebudayaan DIY
Link Twibbon Gerakan Jogjakarta Kota Hanacaraka, cara pasang bingkai foto Jogja Kota HaNaCaRaKa dari Dinas Kebudayaan DIY /Twibbonize/Seksi Sastra Disbud DIY/

SEPUTARCIBUBUR- Indonesia memiliki sekitar 742 bahasa daerah atau 10% dari total bahasa di dunia. Saat ini Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara yang paling banyak bahasa daerahnya.

Akan tetapi, diperkirakan pada akhir abad ke-21, sekitar lebih dari 1500  bahasa akan hilang. Dalam 40 tahun, kepunahan bahasa akan bertambah tiga kali lipat atau setidaknya satu bahasa punah setiap bulan.

Hal ini didasarkan pada sebuah penelitian dari Australian National University (ANU) pada tahun 2021 yang menunjukkan bahwa pada akhir abad ke 21, sekitar 1500 bahasa dunia akan punah.

Baca Juga: ESTO, PO Bus Legendaris di Indonesia yang Dijuluki Kodok Ijo

Dengan mengikuti variabel yang dipakai, diperkirakan sekitar 441 bahasa (>50%) di Indonesia akan mengalami kepunahan.

Ethnologue pada tahun 2023 melaporkan bahwa setidaknya sebanyak 24 bahasa daerah di Indonesia tidak lagi memiliki penutur atau jumlah penuturnya nol. Hal itu menjadi rapor merah bahasa sejauh ini.

Dikutip dari laman kemdikbud.go.id beberapa provinsi di Indonesia dengan jumlah bahasa yang paling banyak mengalami kepunahan adalah Maluku, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, dan Maluku Utara. Berikut perinciannya:

Baca Juga: Renungan Malam Kristiani: Harta Terpendam

  1. Maluku: 12 bahasa

Diantaranya adalah Hoti, Hukumina, Hulung, Kamarian, Kayeli, Loun, Moksela, Naka’ela, Nila, Nusa Laut, Serua, dan Te’un. 

Halaman:

Editor: Ruth Tobing


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah