Catat Rekor Pendapatan Dividen 2023, Saratoga Bukukan NAV Rp 48,9 Triliun

- 18 Maret 2024, 18:38 WIB
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Foto: Saratoga-investama.com
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Foto: Saratoga-investama.com /

SEPUTAR CIBUBUR  - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sepanjang tahun 2023 berhasil mengoptimalkan kinerja perusahaan-perusahaan portofolionya melalui capaian dividen dan hasil divestasi yang menguntungkan. Hal ini tercermin dari arus kas dividen dan divestasi Saratoga di akhir tahun yang mencapai level tertinggi sebesar Rp 3,9 triliun.

Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan mengatakan, tahun 2023 merupakan momentum penting bagi Saratoga dalam menjalankan strateginya sebagai perusahaan investasi. Selain mendorong peningkatan dividen di tengah kondisi pasar yang dinamis, Saratoga juga berhasil melakukan divestasi dan monetisasi terhadap portofolio yang sudah matang dan menghasilkan return maksimal bagi perusahaan.

“Kami bersyukur pada tahun 2023 Saratoga mampu mencapai rekor pendapatan dividen tertinggi dari perusahaan portofolio, sehingga menjadikan likuiditas perusahaan sangat kuat. Dengan dana kas tersebut, kami mempunyai kapasitas yang luas untuk melakukan berbagai inisiatif strategi investasi, baik di tahun 2023 maupun pada tahun-tahun yang akan datang,” kata Devin melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (18/3/2024).

Dengan dukungan neraca yang kuat, pada tahun 2023 Saratoga juga telah menjalankan strategi investasinya dengan meningkatkan kepemilikan di PT MGM Bosco Logistik (MBL) sehingga menjadi pemegang saham mayoritas.

Devin juga menyampaikan bahwa di tahun 2023 lalu Saratoga mencatat Nilai Aset Bersih (Net Asset Value/NAV) sebesar Rp 48,9 triliun. NAV tersebut mengalami penurunan 20% dibanding tahun 2022.

Baca Juga: NAV Saratoga Kuartal III-2023 Capai Rp 49,8 Triliun, Ini Pendukungnya

“Gejolak harga komoditas sepanjang tahun 2023 telah berdampak terhadap harga saham-saham perusahaan portofolio utama Saratoga yaitu PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (kode saham: ADRO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (kode saham: MDKA). Fluktuasi harga saham tersebut ikut berdampak terhadap NAV Saratoga pada akhir tahun lalu,” jelas Devin.    

Devin berkeyakinan bahwa dengan fundamental baik yang dimiliki, perusahaan portofolio seperti ADRO dan MDKA akan mampu mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Apalagi dua entitas perusahaan tersebut berada di sektor strategis, yaitu komoditas batubara, emas, nikel dan juga bisnis hilirisasi komoditas, yang berdampak langsung terhadap perekonomian global maupun domestik. 

Direktur Keuangan Saratoga Lany D Wong mengungkapkan, Saratoga berhasil dalam memperkuat likuiditas internal pada tahun 2023. Hal ini terlihat dari penurunan posisi utang yang juga berdampak pada terpangkasnya biaya bunga hingga 49% di tahun 2023. Keberhasilan ini sejalan dengan upaya perusahaan dalam mengelola modal secara hati-hati ditengah masih berlangsungnya iklim suku bunga dunia yang tinggi.

“Berdasarkan posisi 31 Desember 2023, kami menurunkan utang bersih Saratoga hingga 62% menjadi Rp 263 miliar, dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 688 miliar. Kami juga berhasil menjaga rasio biaya dan utang tetap berada pada tingkat yang sehat. Biaya operasional terhadap NAV masing-masing sebesar 0,5% dan loan to value menjadi 0,4% dari sebelumnya 1,1% pada tahun 2022,” ungkap Lany.

Lany menyatakan, tahun ini Saratoga akan terus aktif dalam menjalankan strategi investasinya. Langkah ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif. Berakhirnya proses pemilihan umum secara damai pada Februari lalu juga menjadi modal yang baik bagi pelaku usaha untuk terus berinvestasi dan mengembangkan bisnis mereka.

“Kami akan tetap fokus meningkatkan investasi di sektor ekonomi yang memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia. Salah satu strateginya adalah memperkuat investasi di portofolio yang sudah ada atau menambah portofolio baru yang memiliki prospek pertumbuhan bisnis yang baik dalam jangka panjang,” tutup Lany.

Berikut update perusahaan portofolio Saratoga  

Pertama, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)

Pada tahun 2023 ADRO berhasil melanjutkan kinerja positif dengan mencatat volume produksi batubara sebesar 65,9 juta ton, tumbuh 5% secara year on year (yoy) dengan volume penjualan naik 7% yoy menjadi sebesar 65,7 juta ton. Pencapaian tersebut di atas target tahun 2023 sebesar 62-64 juta ton.

ADRO membukukan pendapatan pada tahun 2023 sebesar US$6,5 miliar, turun 20% yoy dengan EBITDA operasional mencapai US$2,6 miliar, menurun 49% yoy. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga rata-rata penjualan batubara sebesar 26% yoy di tahun 2023.

Walaupun demikian, neraca ADRO tetap terjaga di tingkat yang sehat dengan posisi kas bersih sebesar US$1,9 miliar pada tahun 2023.

Sepanjang tahun lalu, ADRO berhasil menjalankan sejumlah aksi korporasi, diantaranya;

pada  bulan Maret 2023 telah dilakukan groundbreaking proyek PLTA Mentarang Induk di Kalimantan Utara.  Pembangkit listrik tersebut akan menghasilkan listrik sebesar 1.375 MW dengan estimasi investasi sebesar US$2,6 miliar dan dioperasikan di bawah PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN), yang dimiliki oleh ADRO (50%), Sarawak Energy Berhad (25%), dan PT Kayan Patria Pratama (25%).

Selanjutnya, pada bulan Mei 2023 memperoleh pinjaman sebesar US$1,6 miliar dan Rp 2,5 triliun untuk pembangunan smelter aluminium.

Kedua, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Pada tahun 2023, MDKA mencatat peningkatan produksi emas menjadi 138.666 ounce (oz), naik 11% secara tahunan. Sementara harga rata-rata penjualan emas juga meningkat 8% yoy di level US$1,939/oz. Produksi tembaga turun 35% yoy menjadi 12.706 ton akibat adanya penundaan sementara dalam pengiriman bahan peledak. Produksi tembaga sudah menunjukkan pemulihan pada 4Q23.

Pada komoditas nikel, tahun 2023 produksi nikel matte mencapai 30.333 ton sementara produksi NPI meningkat 68% yoy menjadi 65.117 ton sebagai dampak dari mulai beroperasinya smelter PT Zhao Hui Nickel (ZHN). Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) akan memasok sekitar setengah dari kebutuhan bijih nikel dari smelter yang dimiliki MBMA pada tahun 2024, sehingga mengurangi dampak dari fluktuasi harga nikel dunia.

Pengiriman bijih Tambang SCM melonjak dari 43.989 ton pada kuartal III 2023 menjadi 2,9 juta ton pada kuartal 4 2023. SCM menargetkan penjualan bijih nikel sebesar 15 juta ton pada tahun 2024 (4 juta ton safrolit dan 11 juta ton limonit).

Pada bulan April 2023, salah satu anak perusahaan MDKA yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berhasil menyelesaikan Penawaran Umum Perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (IDX). Dengan harga Rp 795 per lembar saham, IPO tersebut mendapat dukungan kuat dari investor domestik dan asing, dana kekayaan negara regional dan investor strategis. Penawaran tersebut melibatkan penerbitan 11,6 miliar saham baru, dengan total modal baru sebesar Rp 9,2 triliun, setara dengan 10,7% dari total saham yang beredar.

Serangkaian aksi korporasi berhasil dijalankan oleh MBMA:

MBMA telah mengumumkan rencana mengembangkan pabrik High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Kawasan Industri Konawe Indonesia di Sulawesi, Indonesia. Proyek HPAL ini akan menghasilkan total setara nikel 120 ribu ton per tahun yang dibagi menjadi dua tahap. Untuk tahap pertama, MBMA telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Ningbo Brunp Contemporary Amperex Co. Ltd., afiliasi dari Brunp CATL.

Pada bulan Juni 2023, MBMA telah mengakuisisi 60% saham (40% Tsingshan) di PT Huaneng Metal Industry (HNMI) senilai US$75 juta, sebuah fasilitas konversi nikel bermutu tinggi matte (HGNM) yang berlokasi di dalam Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). HNMI mengolah nikel matte kadar rendah (LGNM) menjadi HGNM yang mengandung 70% nikel. Kapasitas produksi tahunan adalah 50 ribu ton per tahun.

Pada bulan September 2023, MBMA telah menandatangani perjanjian definitif dengan GEM untuk membangun pabrik HPAL dengan kapasitas 30 ribu ton nikel yang terkandung dalam Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun. 

Pabrik HPAL akan dibangun di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan dioperasikan di bawah PT ESG New Energy Material (joint venture MBMA dan GEM) dengan target commissioning pada akhir tahun 2024 untuk tahap 1 dan pertengahan tahun 2025 untuk tahap 2. Pabrik ini juga akan membeli dan memproses bijih nikel laterit dari Tambang SCM MBMA berdasarkan perjanjian pasokan selama 20 tahun.

Ketiga, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)

Pada bulan Maret 2023, CVC Capital Partners melalui Matrix Company Limited telah mengakuisisi saham minoritas yang signifikan (32,3%) di AGII dari pemegang saham yang ada sekitar US$155 juta. Memanfaatkan jaringan dan pengalaman global CVC, investasi ini akan memberikan manfaat yang signifikan bagi AGII, termasuk transfer pengetahuan global dan berbagi praktik terbaik.

AGII telah mengadakan peletakan batu pertama proyek pabrik barunya di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) - Jawa Tengah. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik ke-56 milik AGII dan dijadwalkan commissioning pada kuartal 4 2024. AGII juga telah menandatangani perjanjian jual beli dengan KCC Glass Corporation dari Korea Selatan pada November 2022.

KCC juga sedang membangun pabrik di KITB yang diproyeksikan menjadi salah satu pabrik  terbesar di Asia Tenggara.

Perusahaan Non-Terbuka

Keempat, MGM Bosco Logistik (MBL)

MBL merupakan penyedia layanan logistik rantai pendingin end-to-end mulai dari solusi pergudangan, pengiriman dan logistik dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri ini. Saat ini MBL memiliki dan mengelola empat fasilitas cold storage dengan total kapasitas lebih dari 35 ribu posisi palet. Lokasinya tersebar di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Sebagai salah satu perusahaan penyedia layanan logistik rantai dingin end-to-end terbesar di Indonesia, MBL mengoperasikan hampir 1.000 truk berpendingin yang dilengkapi dengan thermo-logger dan GPS. Fasilitas tersebut memungkinkan pelanggan memantau status pengiriman dan konfigurasi suhu produk.

Sejalan dengan komitmen Saratoga untuk meningkatkan kapasitas bisnis MBL, pada tahun 2023 Saratoga meningkatkan kepemilikan sahamnya di perusahaan ini menjadi pemegang saham mayoritas.

Kelima, Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA)

Pada tahun 2023 telah  meluncurkan Bersama Digital Data Centers (BDDC) sebagai bagian dari BDIA, yang memiliki dan mengoperasikan pusat data operator netral dalam kota di beberapa lokasi strategis yang terhubung di wilayah Jakarta.

BDDC telah mengakuisisi 2 lokasi: PT Rumah Data Kita (Jakarta Selatan) yang masih dalam tahap konstruksi dan PT PCDC Propco One AtriaDC (Jakarta Barat) yang sudah beroperasi. BDDC memiliki total kapasitas desain hingga 60MW dan menempati area ruang data melebihi 20,000 meter persegi, dengan potensi menampung lebih dari 9,000 rak.

Keenam, Xurya Daya Indonesia (Xurya)

Xurya merupakan pengembang proyek tenaga surya (solar developer) yang telah dipercaya oleh lebih dari 100 perusahaan untuk memasang dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya atap di gedung mereka. Jumlah PLTS Atap yang sudah beroperasi mencapai 150 proyek dan tersebar di 11 provinsi di Indonesia. Xurya diakui dalam Forbes Asia “100 to Watch List”. 

Xurya telah menjalin kerjasama strategis dengan PLN Icon Plus dan PLN UID Jawa Barat.  Bersama PLN, Xurya akan membuat rencana kolaborasi bisnis pemanfaatan EBT, penyediaan sistem fotovoltaik, sistem manajemen energi, manajemen karbon, dan sertifikasi energi terbarukan.

Pada tahun 2023, Xurya berhasil melipatgandakan kapasitas energi mereka dan diperkirakan melakukan carbon offset setidaknya sebesar 54.000 ton CO2 pada bulan Januari hingga Desember 2023.

Sepanjang 2023, Xurya telah menyelesaikan konstruksi dan mengoperasikan 58 proyek baru di sejumlah lokasi seperti Grup Trans Shopping Mall, Plaza Indonesia, PT Sariguna Primatirta (CLEO), PT Serena Indopangan Industri (Khong Guan Group) dan Rumah Sakit Islam Surabaya Jemursari. (Lucius GK)

Editor: Ruth Tobing

Sumber: Siaran Pers


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Pemilu di Daerah

x